02 January 2011

Sejarah Tato Yang Sedang Berubah: Dari Petrus Hingga Angelina Jolie*

Tato punya akar budaya tapi ia pernah dianggap dekat dengan kriminalitas. Kini tato jadi tren gaya hidup.

PADA masa Orde Baru, sebuah stigma tak mengenakkan diberikan kepada orang-orang bertato. Barangsiapa punya rajahan ditubuhnya dicap sebagai preman atau gali yang mengancam keamanan. Saat itu, awal 1980-an, kejahatan memang merajalela di mana-mana. Pemerintah kemudian mengambil tindakan kejam dengan menggunakan tangan para Petrus (penembak misterius) untuk menembak mati orang-orang yang dianggap atau dicurigai sebagai pengacau keamanan tanpa melalui prosedur hukum.

Brita L. Miklouhu-Makial dalam buku Menguak Luka Masyarakat: Beberapa Aspek Seni Rupa Indonesia Sejak Tahun 1966, menulis bahwa para preman itu, yang diidentifikasikan melalui tato, ditembak secara rahasia lalu mayatnya ditaruh dalam karung dan dibuang di sembarang tempat –tak jarang di tengah keramaian– seolah-olah mereka sampah. Tercatat antara lima hingga 10.000 orang yang dicurigai sebagai preman tewas mengenaskan.

Meski banyak pihak mengkritiknya, Soeharto bersikukuh dengan “metode pembersihan” itu dan menekankan shock therapy itu diperlukan untuk menekan tingginya tingkat kriminalitas.

“Tato diasosiasikan dengan kejahatan… terlepas dari apa yang dilakukan atau niat orang itu. Pernyataan Presiden Soeharto menunjukkan bahwa daya tarik rajah adalah indikasi dari kekuatannya, yang diatribusikan pada kriminalitas jauh lebih besar daripada perbuatan kriminal itu sendiri,” tulis Vicente L. Rafael dan Rudolf Mrazek dalam Figures of Criminality in Indonesia, The Philippines, and Colonial Vietnam.

Mengaitkan kriminalitas dengan tato bukan fenomena di Indonesia saja. Di Jepang tato kerap dihubungkan dengan kelompok mafia Yakuza. Anggota kelompok ini biasanya memiliki tato yang memenuhi nyaris seluruh bagian tubuh. Tato dengan motif tradisional Jepang yang dikenal sebagai Irezumi ini menunjukkan kedudukan seorang anggota dalam organisasi sekaligus memperlihatkan kehebatannya dalam menahan sakit. Desainnya amat beragam mulai dari naga, bunga, atau gambar pegunungan. Butuh waktu lama untuk menorehkan tato-tato yang rumit itu, bisa mencapai 100 jam.

Hingga saat ini di Jepang stigma terhadap orang bertato sulit dilepaskan. Orang-orang bertato tak diperbolehkan memasuki rumah-rumah mandi (ofuro). Banyak taman ria juga tak mengizinkan pengunjung bertato memperlihatkan rajahan di tubuh mereka. Artinya, selama berada di sana, mereka wajib mengenakan pakaian yang menutupi tato di tubuh mereka.

Sesungguhnya tato punya akar budaya yang panjang, dan tak ada kaitannya dengan kriminalitas. Jejak tato tertua dalam peradaban manusia ditemukan pada September 1991, dirajahkan di kulit mumi yang ditemukan di wilayah Otztal, dekat Hauslabjoch, di perbatasan Austria dan Italia. Mumi itu diperkirakan berusia 5.300 tahun.

Di sekujur tubuh mumi yang kerap disebut “Otzi the Iceman” itu ditemukan 50 buah tato berupa titik-titik dan garis-garis di bagian bawah tulang belakang, lutut kiri, dan pergelangan kaki kanannya. Diperkirakan semasa hidupnya si mumi menderita radang sendi, dan ada kemungkinan tato-tato itu merupakan metode pengobatan.

Di Indonesia budaya tato sudah ada di kalangan masyarakat Kepulauan Mentawai sejak tahun 53 sebelum Masehi. Nenek moyang orang Mentawai, yang merupakan bangsa Proto Melayu, datang ke Indonesia dari daratan Asia ke pantai barat Sumatra sekitar 1.500-500 SM. Dan dalam masyarakat ini, tato memilki kaitan erat dengan sistem kemasyarakatan, sehingga setiap penduduk suku asli Mentawai memiliki belasan tato di sekujur tubuhnya.

Tato mereka memiliki beragam fungsi, seperti pernah dibahas dalam “Melestarikan Rajah Purba” yang dimuat di Tempo Online, 12 April 2010. Ada tato yang menjelaskan tempat tinggal dan suku asal seseorang, ada pula tato yang menjelaskan profesinya. Sikerei atau pemimpin adat suku asli Mentawai biasanya memiliki tato bintang sibalu-balu. Para pemburu memiliki rajahan berupa gambar binatang hasil tangkapan mereka: babi, rusa, kera, buaya, burung, dan sebagainya. Tato Mentawai juga berfungsi sebagai simbol keseimbangan alam. Sayangnya, saat ini sudah sedikit penduduk suku asli Mentawai yang menato tubuhnya. Pada 1980-an praktik pembuatan tato tradisional yang disebut Titi itu pernah coba dihilangkan rezim Orde Baru. Orang-orang yang mempraktikannya dikenai hukuman berat.

Stigma negatif terhadap tato perlahan luntur. Banyak selebritas dunia memilih untuk merajah tubuh mereka. Majalah Life di Amerika mencatat pada 1936 setidaknya 10 juta orang Amerika memiliki rajah di tubuhnya. Saat ini jumlah itu meningkat hingga 40 juta orang. Di Amerika saja setidaknya ada 20.000 tempat tato.

Ada banyak alternatif untuk membuat rajah di tubuh. Tato tradisional Mentawai biasanya dibuat dengan menggunakan tatah, yang diserut dari kayu pohon Karai lalu diruncingkan. Sementara pembuatan tato yang lebih modern menggunakan mesin tato. Mesin ini memiliki kumparan elektromagnetik yang akan menaik-turunkan jarum, sementara tinta meresap ke corak tato yang sedang dibuat.

Jika tak suka tato permanen, Anda bisa memilih tato temporer. Jenis tato ini bisa dilukis langsung, ditempelkan dengan menggunakan sejenis stiker khusus, atau dibuat dengan teknologi airbrush. Tato jenis ini bisa bertahan di permukaan kulit beberapa jam hingga beberapa bulan.

Pamor tato terangkat karena sejumlah selebritas memilikinya. Johnny Depp, Amy Winehouse, dan Angelina Jolie adalah contoh kecil dari selebritas Hollywood yang suka menato tubuh mereka. Angelina Jolie memiliki setidaknya selusin tato. Corak tato yang disebut “Tribal Dragon Tattoo” yang ditorehkan di bagian panggulnya kini sering dipilih kaum hawa.

“Biasanya saya menorehkan tato di waktu-waktu terbaik dalam kehidupan saya. Sebuah tato adalah sesuatu yang permanen saat Anda mengenali hal yang amat penting tentang diri Anda, atau saat Anda pada akhirnya memutuskan sesuatu yang besar,” ujar Jolie dalam sebuah wawancara dengan USA Today pada 2004.

Di kalangan selebritas Indonesia, tato menjadi sesuatu yang in dan trendi. Tengoklah Tora Sudiro yang merajahkan berbagai corak di sekujur tubuhnya, atau model cantik Fahrani yang keranjingan menato tubuh sejak berusia belia. Ada yang tatonya berada di bagian tubuh yang terbuka sehingga orang lain bisa melihatnya, ada pula yang memilih di bagian tubuhnya yang tersembunyi. Contoh selebritas yang tatonya tersembunyi (kalau video mesum artis itu benar) ya Luna Maya. [VIFI]


Diadaptasi dari judul asli: Dari Petrus Hingga Angelina Jolie
sumber LINK: http://www.majalah-historia.com/majalah/historia/berita-270-dari-petrus-hingga-angelina-jolie.html

21 December 2010

Yogyakarta dan Natal pada Desember 1948*

Oleh: JAY AKBAR

Bukan manisan atau cokelat tapi bombardemen dari udara. Yogyakarta luluh lantak menjelang Natal 1948.

DI tengah prahara, pada 2 Januari 1946 sepucuk surat dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX datang ke tangan Presiden Sukarno. Sultan menyampaikan Yogyakarta siap menjadi ibu kota sementara, menggantikan Jakarta yang tak aman lagi karena aksi tentara NICA. Sukarno-Hatta, menyambut baik tawaran itu. Dalam rapat kabinet 3 Januari 1946 para pemimpin republik memutuskan untuk memindahkan ibukota ke Yogyakarta.

Seusai rapat, sore menjelang malam, gerbong-gerbong kereta kosong digerakan perlahan dari Stasiun Manggarai. Nyaris tak berbunyi. Di jalan Pegangsaan Timur 56, persis di belakang rumah Sukarno, lokomotif berhenti. Dalam gelap malam yang mencekam Sukarno, Hatta, bersama para menterinya berangkat menuju Yogyakarta.

Dua hari setelah rombongan tiba, Yogyakarta diresmikan sebagai ibukota Republik Indonesia. Sukarno menempati rumah kediaman Gubernur Yogyakarta sebagai tempat tinggal pribadi sekaligus kantor presiden. Sementara itu Wakil Presiden Moh. Hatta, menempati sebuah rumah di Jalan Reksobajan, persis di sebelah kiri Istana Presiden. Sultan Hamengkubuwono IX sendiri diangkat menjadi Menteri Negara dalam Kabinet Sjahrir III.

Kesetiaan Raja Yogyakarta pada Republik Indonesia sudah dibuktikan sejak usia republik masih jauh belia. Hanya berselang satu hari setelah proklamasi kemerdekaan dibacakan, Sultan Hamengkubuwono IX mengirimkan kawat kepada Sukarno-Hatta dan dr. KRT Radjiman Wediodiningrat, Ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan, mengucapkan selamat atas terbentuknya Republik Indonesia.

Ucapan itu bukan sekadar basa-basi politik belaka. Pada 5 September 1945, melalui sebuah maklumat, Sultan menunjukan komitmen dan dukungan kepada Republik. Maklumat itu berbunyi wilayah kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan Daerah Istimewa RI, segala kekuasaan dalam negeri dan urusan pemerintahan berada di tangan Hamengkubuwono IX, dan Sultan Hamengkubuwono IX bertanggung-jawab langsung kepada Presiden RI.

Dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi serangan Belanda, selaku panglima Laskar Rakyat di Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono IX memerintahkan agar laskar menggelar latihan perang. Pada 19 Desember 1948, laskar berencana latihan perang besar-besaran. Belum lagi latihan dimulai, tiba-tiba terdengar rentetan letusan senjata dan bunyi pesawat meraung-raung di atas langit Yogyakarta. Di kediamannya, Presiden Sukarno pun sempat menanyakan apakah itu suara dari latihan perang yang sedang digelar oleh laskar. Ternyata bukan. Belanda sedang melancarkan aksi militernya yang kedua.

Tak seorang pun menduga kalau Belanda akan mengingkari janjinya dalam Perundingan Renville dengan melancarkan aksi yang mereka sebut sebagai “Aksi Polisionil” itu. Kemal Idris dalam buku Bertarung Dalam Revolusi mengisahkan kejadian itu, “… dari jauh terlihat sebuah pesawat terbang. Dalam hati saya timbul dugaan, bahwa hari itu akan ada latihan Angkatan Udara yang sebelumnya memang direncanakan.” Dengan serangan itu secara otomatis Belanda tidak lagi terikat pada Renville.

Selama masa pendudukan ini Sultan Hamengkubuwono IX berperan besar dalam menjaga semangat perjuangan rakyat melawan Belanda. Dia sumbangkan uang gulden Belanda miliknya untuk meyokong perang gerilya yang dilakukan rakyat bersama TNI. Keraton juga memberikan setidaknya 1440 pucuk senjata api dan senjata-senjata tajam seperti tombak kepada pasukan RI.

“Bantuan keuangan dari sultan tidak hanya diberikan kepada pejabat dan pegawai, tetapi juga untuk keperluan pasukan gerilya dan PMI.” Tulis Julius Pour dalam Doorstoot Naar Djokja: Pertikaian Pemimpin Sipil-Militer.

Suatu hari M. Roem pernah menanyakan kepada Sultan berapa jumlah uang yang ia sumbangkan? “ah, nggak mungkin ingat, ngambilnya saja begini (sambil menirukan gerakan orang mengambil pasir dengan dua telapak tangan),” kenang Sultan kepada M. Roem dalam Tahta Untuk Rakyat. Menurut taksiran Hatta, jumlah uang yang telah disumbangkan Sultan waktu itu tidak kurang dari lima juta gulden. Hatta sudah pernah bertanya, apakah bantuan tersebut tidak perlu dihitung, agar nanti bisa dibayar kembali oleh pemerintah Indonesia? Namun Sultan, tidak pernah menjawab pertanyaan itu.

Serangan itu sedemikian keras dan bahkan sempat menciptakan perselisihan paham di antara pemimpin sipil dan militer. Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman meminta para pemimpin sipil, khususnya Sukarno-Hatta untuk meninggalkan Yogyakarta dan mempertahankan kedaulatan kemerdekaan dengan jalan senjata. Sukarno menolak dan lebih memilih jalan diplomasi.

“Saya minta dengan sangat agar Bung Karno turut menyingkir. Rencana saya hendak meninggalkan kota ini dan masuk hutan. Ikutlah Bung Karno dengan saya,” pinta Sudirman.

“Dirman, engkau seorang prajurit. Tempatmu di medan pertempuran dengan anak buahmu. Dan tempatmu bukanlah tempat pelarian bagi saya. Saya harus tinggal di sini, dan mungkin bisa berunding untuk kita dan memimpin rakyat kita semua,” tolak Sukarno, sebagaimana ditulis dalam autobigrafinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat.

Sudirman benar, tak berselang lama sesudah serangan tak terduga itu, Belanda berhasil menguasai lapangan udara Maguwo, tercatat 128 tentara Indonesia tewas. Selanjutnya Belanda bergerak menuju pusat kota. Sore kira-kira pukul 17.00 kolonel Van Langen, penguasa militer Belanda untuk wilayah Yogyakarta berhasil menduduki istana. Beberapa hari berikutnya para pemimpin republik: Sukarno, Hatta, Sjarir, dan Agus Salim diterbangkan ke pengasingan di Berastagi. Di kemudian hari Sukarno mengenang serangan itu: “Desember 1948, Belanda menjatuhkan hadiah Natal tepat di atas cerobong asap dapurku. Jam 5.30 di pagi hari Minggu, tanggal 19, mereka membom Yogyakarta.”

*diadaptasi dari judul asli: Kado Natal untuk Yogyakarta

Sumber: http://www.majalah-historia.com/majalah/historia/berita-372-kado-natal-untuk-yogyakarta.html atau klik di SINI

13 December 2010

Resensi Buku: Misteri Tiga Orang Kiri*

Seri Buku Tempo:

Judul: Orang Kiri di Indonesia, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, Oktober 2010

Bertahun-tahun penguasa Orba menempatkan mereka (Aidit, Njoto, dan Sjam) sebagai mitos sejarah yang haram untuk diwacanakan.



SEORANG pria berparas dingin, dengan mulut berlumur asap, serius berkata, “Jawa adalah kunci…”, “Djam D kita adalah pukul empat pagi…”, “Kita tak boleh terlambat…!”

Dipa Nusantara Aidit pada 1980-an adalah Syu’bah Asa dalam film berjudul Pengkhianatan G-30-S/PKI. Melalui film itu, Syu’bah berhasil menciptakan bayang-bayang di pikiran masyarakat tentang sosok Aidit: lelaki jahat penuh muslihat, haus kekuasaan, dan dengan dingin memerintahkan pembunuhan para jenderal.

Tapi itu dulu saat Orde Baru masih berkuasa. Ketika tafsir sejarah tentang Partai Komunis Indonesia (PKI) dan tokoh-tokohnya hanya milik penguasa. Pascagerakan reformasi 1998, yang diikuti dengan jatuhnya kekuasaan Soeharto, masyarakat mempertanyakan kebenaran tafsir itu. Berbagai studi tentang gerakan kiri di Indonesia bermunculan. Tak terkecuali tentang Aidit, Njoto, dan Sjam Kamaruzzaman, yang coba ditelusuri majalah Tempo. Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari Liputan Khusus majalah itu.

Masa kecil dan muda Aidit tidaklah semengerikan yang digambarkan Orde Baru. Dia lahir di Belitung, Sumatra Selatan, pada 30 Juli 1923 dengan nama Achmad Aidit, dari keluarga terpandang dan berada. Achmad dikenang sebagai sosok abang yang pelindung. Di kampung, Achmad muda dikenal pandai bergaul dan jago berenang. Pun, seperti kebanyakan pemuda Belitung seusianya, dia rajin mengaji. Achmad bahkan terkenal sebagai tukang azan.

Garis politik Achmad terbentuk sejak dia rajin bergaul dengan buruh-buruh Gemeenschappelijke Mijnbouw Mattschappij Billiton, perusahaan timah milik Belanda, yang letaknya sekitar dua kilometer dari tempat tinggalnya. Tapi karier politiknya baru dimulai saat dia bergabung dengan Persatuan Timur Muda, sebuah perkumpulan pemuda yang dimotori oleh Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo), di bawah pimpinan Amir Syarifuddin dan Dr. Adenan Kapau Gani. Kecerdasan dan keluwesan Achmad segera membawanya menjadi ketua umum Pertimu. Di saat aktivitas politiknya menanjak cepat itulah Achmad Aidit mengganti nama depannya menjadi Dipa Nusantara Aidit.

Menjelang proklamasi, Aidit yang tergabung dalam kelompok pemuda Asrama Mahasiswa Menteng 31, terlibat dalam aksi heroik penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Semangat revolusi Aidit membuncah ketika Musso datang dari Rusia. Baginya, kehadiran Musso menjanjikan aksi, bukan sekadar angan revolusi. Selang waktu sebulan setelah Aidit menerima jabatan koordinator seksi perburuhan partai, pecah Peristiwa Madiun 1948. Aidit buron. Kabar tersiar dia kabur ke Vietnam Utara. Ada pula yang mengatakan dia hanya modar-mandir Jakarta-Medan.

Dua tahun kemudian Aidit muncul lagi. Bersama Njoto dan Lukman, dia mengkonsolidasikan kekuatan partai yang sempat limbung dan terpecah-belah. Dalam waktu cepat, “trisula” ini berhasil mengembalikan kebesaran partai. Tahun 1954 Aidit mengambil-alih kepemimpinan dari kelompok tua, Alimin dan Tan Ling Djie, serta membawa PKI menjadi partai terbesar keempat dalam pemilu 1955.

Aidit bercita-cita menjadikan Indonesia negara komunis. Dia punya teori sendiri tentang Revolusi. Baginya, revolusi bisa berhasil jika disokong setidaknya 30 persen kekuatan tentara. Tapi teorinya meleset. Gerakan 30 September 1965 yang dia rencanakan gagal. Aidit tutup buku dengan cara tragis: di Solo tentara menangkapnya dan menghujaninya dengan satu magazin peluru kalashnikov.

Njoto berbeda dengan kebanyakan orang komunis. Penampilannya necis. Jiwa seninya cenderung melankolis. Meski akrab dengan pemikiran Marxis dan Leninis, Njoto tak menganggap “kapitalis” harus selalu dimusuhi. Dia belajar politik secara sembunyi-sembunyi. Keluarganya nyaris tak mengetahuinya.

Petualangan politik Njoto dimulai ketika terlibat dalam perebutan senjata Jepang di Surabaya, Bangil, dan Jember. Sampai suatu hari muncul berita: Njoto menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Yogyakarta, sebagai wakil ketua PKI Banyuwangi.

Njoto berkenalan dengan Aidit dan Lukman di Yoyakarta. Kesamaan ideologi membuat ketiganya cepat akrab. Njoto menjabat wakil Sekjen II lalu wakil ketua II CC PKI. Dalam prahara 30 September 1965, banyak orang tak percaya keterlibatan Njoto. John Rossa dalam Dalih Pembunuhan Massal menulis, “Dalam semua diskusi, kawan Njoto dengan sadar tidak diikutsertakan oleh kawan Aidit, dengan pertimbangan ideologis.” Aidit menganggap Njoto lebih Sukarnois ketimbang komunis. Sementara wartawan senior Joesoef Isak menganggap ketidaksenangan Aidit terhadap Njoto karena Njoto, yang telah beristri, memiliki kekasih, seorang perempuan asal Rusia. Bagi Aidit, perbuatan Njoto tak etis dan mengganggu citra partai. Joesoef Isak menambahkan, sejak 1964 Njoto sudah diberhentikan dari semua jabatan fungsional di partai.

Dalam wawancara dengan Asahi Shimbun, 2 Desember 1965, Njoto mempertanyakan dasar logika gerakan itu: “Apakah premis Letkol Untung tentang adanya Dewan Jenderal membenarkan adanya suatu coup d’etat?”

Di mata anak-anaknya, Njoto dikenal sebagai sosok ayah penyayang. Di waktu senggang, Njoto kerap mengajak keluarganya berlibur naik trem atau berpakansi ke pantai. Kebahagiaan keluarga ini sirna pascaperistiwa 1965. Njoto jadi pelarian. Kabar tersiar dia ditangkap tentara dan kemudian dieksekusi mati. Sayang, keluarga Njoto tak pernah tahu jasad atau makamnya.

Tokoh PKI lain yang kerap disangkutpautkan dalam peristiwa 1965 adalah Sjam Kamaruzzaman. Sjam lelaki misterius asal Tuban, Jawa Timur. Polisi militer mencatat setidaknya terdapat lima nama alias yang dimiliki Sjam: Djimin, Sjamsudin, Ali Moechtar, Ali Sastra, dan Karman. Sjam merupakan mozaik penting dalam prahara itu. Tapi kisah hidup Sjam lebih mirip mitos ketimbang sejarah. Bahkan banyak petinggi PKI tak tahu siapa dirinya.

Aidit mengenal Sjam ketika keduanya aktif di Serikat Buruh Kapal Pelabuhan di Tanjung Priok tahun 1949. Ketika pada 1964 istri Sjam meninggal akibat tifus, Aidit makin dekat dengan Sjam. Dia meminta Sjam mengetuai sebuah organisasi rahasia PKI, yang disebut Biro Khusus. Tugas Biro Khusus mempengaruhi dan mengurus kelompok tentara yang berhaluan kiri.

Dalam operasi G30S, Aidit kurang korektif dengan laporan Sjam yang kerap tak akurat. Satu batalyon Pasukan Gerak Cepat TNI Angkatan Udara yang direncanakan datang, tak pernah muncul. Pasukan tank dan panser yang diharapkan datang dari Bandung pun tak pernah ada. Dan Bung Karno, yang digadang-gadang sebagai dalil aksi, juga menolak untuk menyetujuinya. Operasi itu dapat dilumpuhkan hanya dalam hitungan jam.

Kurang lebih dua tahun Sjam menjadi pelarian dengan melakukan penyamaran dari satu kota ke kota lainnya. Sampai akhirnya dia tertangkap pada 9 Maret 1967, di tempat persembunyian di Cimahi, Jawa Barat. Di penjara, Sjam dikabarkan menjadi informan tentara untuk membocorkan siapa saja anggota militer yang memiliki kaitan dengan PKI.

Sama seperti Njoto, akhir riwayat Sjam tak pernah jelas. Menurut sebuah versi, Sjam dieksekusi mati pada September 1986 di Kepulauan Seribu. Tapi toh keluarga Sjam tetap tak mengetahui kebenaran versi ini.

Kisah Aidit, Njoto, dan Sjam dalam buku ini menunjukan kepada kita bahwa perjalanan hidup seorang anak manusia dalam bingkai sejarah tidaklah bisa ditempatkan secara hitam dan putih. Dan terlepas dari segala misteri serta kontroversi yang menyelimuti ketiganya, agaknya tokoh-tokoh kiri ini memiliki jalan takdir yang sama dengan sebuah ungkapan “revolusi memakan anaknya sendiri.”[JAY AKBAR]

*resensi ini bukan kitab suci sehingga semua catatan bisa diperdebatkan meski berdasar pada isi buku dan referensi lain yang terkait dengan pendapat penulis. Percaya atau tidak sepenuhnya menjadi hak pembaca.
Sumber Link: http://www.majalah-historia.com/majalah/historia/berita-365-misteri-tiga-orang-kiri.html