24 February 2015

Baca disini Disertasi, Thesis, Skripsi, dan Beberapa Artikel Jurnal Koleksi FIB UGM

Pengunjung yang baik.


Pembaca yang berbahagia, ini ada pengetahuan baru nih. Untuk membaca sejumlah hasil penelitian mahasiswa di berbagai strata (S.1, S.2, dan S.3) serta sejumlah artikel Jurnal yang dilanggan FIB UGM secara online. Jurnal-jurnal itu memuat antara lain sastra, bahasa, dan budaya yang tentunya menyenangkan dan menambah wawasan tentang Ilmu Pengetahuan di luar kita.

Syaratnya gampang banget, tidak perlu menjadi anggota. Anda hanya cukup terkoneksi dengan internet dan memiliki program browser, seperti firefox, safari, google chrome, baidu, atau opera. Tentu dijalankan di smartphone, tablet, atau komputer.

Sambil santai di bawah pohon atau, sambil santai menikmati teh di sore hari, bisa membaca hasil penelitian yang mengantar anda mengenal bagian lain Indonesia dan sisi-sisi kehidupan manusia.


Agar tidak panjang lembar, aksesnya bisa KLIK LANGSUNG di SINI atau di SINI

Setelah klik, anda akan terhubung dengan website digilib.fib.ugm.ac.id dan silahkan memilih topik sesuai kebutuhan Anda melalu tampilan web dengan kategori yang mudah dilihat. Bisa mencarinya dengan Klik Search Advance, lalu mengetikan KATA KUNCI di setiap kategori  Skripsi, Thesis, Disertasi, dan artikel Jurnal yang tersedia.

Bila tidak ada dan, saudara pernah menghasilkan karya yang tersimpan di FIB UGM, barangkali petugasnya belum sempat mengupload file digitalnya.


Enak bukan? paling tidak mengurangi biaya komunikasi dan perjalanan serta akomodasi, kecuali memang ada tujuan jalan-jalan di Kampus Biru ini atau pengen mencari jejak film terkenal itu "Cintaku di Kampus Biru".


Selamat Membaca,
dan menelusuri sisi-sisi ilmu pengetahuan.


Admin,
La Ode Rabani

Binongko dalam Kenangan di Awal Abad XX




Oleh: La Ode Rabani
(Staf di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga)


Salah satu benteng Baluara di Binongko, source: image from google.com
"Men bericht ons dat het stoomschip „Banda". hedenmorgen ter reede aangkomen, met hare heenreis naar de Molukken en Nieuw-Guinea op den 13den December 11. bij het wrak van het teBinongko gestrande Duitsche barkschip „ Walkyre" is geweest, en het den genoemden stoomer is gelukt een vrij belangrijk bedrag der lading en Inventaris uit genoemd wrak te bergen. Ten wiens voordeel nu het bedrag dezer geborgen lading, die voor het verkoopen van het wrak etc. etc. had plaats gehad zal komen, is nog niet uitgemaakt; van de assuradeuren of van de koopers?"

Koran Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 19 Januari 1882
Sebuah berita dari Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, pada tanggal 19 Januari 1882 menghiasi laman koran itu. Pada keesokah harinya, hampir seluruh koran Eropa memuat berita tentang adanya kapal berbendera Jerman yang karam di sekitar Pulau Binongko, gugusan kepulauan Tukang Besi (kini: Wakatobi). Kapal itu memuat BBM dalam pelayaran ke Asia. Kapal Jerman "Walkyre" ini tenggelam pada 6 Januari 1882 dengan muatan kargo dan barang inventaris penting. Upaya penyelamatan dilakukan oleh kapal Belanda bernama "Banda" yang didatangkan dari Papua dan Maluku. Belum ada informasi mengenai pihak yang menanggung sejumlah kerugian akibat kecelakaan ini, termasuk pihak perusahaan Asuransi.

Analisis Singkat.Karamnya kapal Jerman bermuatan kargo dan barang inventaris yang ditunjang oleh liputan media dunia terhadap kecelakaan kapal di perariran Binongko, telah melambungkan nama daerah itu di se antero dunia. Binongko mendadak terkenal secara geografis dan pasca tragedi itu informasi tentang Binongko menjadi demikian mudah diperoleh baik dalam rekaman koran maupun catatan hubungan daerah itu dengan kesultanan Buton dan aktivitas perompakan, perdagangan dan penyelundupan.

Binongka pada awal abad XX dikenal sebagai daerah yang tandus, namun kaya. Banyak masyarakat dari daerah ini yang sudah menunaikan ibadah haji ke Mekah. Orang-orang Binongko dapat dijumpai di Surabaya, SIngapore, Kepualuan Maluku, dan Papua dengan berbagai aneka profesi. Dalam aktivitas perdagangan pada awal abad XX, orang-orang Binongko menjalankan perahu layar dan sering kali bekerjasama dengan para pelaut Madura untuk melakukan aktivitas perdagangan segitiga antara Binongko-Madura-China di Gresik dan Surabaya, Jawa Timur. Perahu Binongko menjadi mitra baik para pedagang Madura dan muatan kapalnya kemudian dijual ke orang-orang China Surabaya dan Gresik.

Dari realitas itu, kita dapat membaca bahwa Binongko sangat aktif dalam perdagangan antar pulau dan salah satunya menjadi pelopor industri kreatif yang menguasai teknik (teknologi) pembuatan parang dan pisau yang berkualitas tinggi. Apakah ini karena interaksinya dengan orang-orang Jawa ataumerupakan inovasi masyarakat Binongko?


Masa lalu, Binongko tidak hanya cerita tentang air minum yang serba terbatas, pulaunya yang tandus, tetapi sejarah mereka telah ikut meramaikan perdagangan, pelayaran, perdagangan, diaspora, "kriminalitas", Islam, dan dunia "abu-abu" negeri ini.

04 February 2015

Book Report. Secret Trades, Porous Borders, Smuggling and States along a Southeast Asia Frontier 1865-1915.



Identitas Buku      

                                 
Penulis          : Eric Tagliacozzo,
Kota Terbit     : New Haven and London
Penerbit         : Yale University Press
Tahun             : 2005                   Jumlah halaman:     xviii+437 hlm


Pengantar



Secara umum buku ini memetakan (mapping) batas-batas wilayah kekuasaan Belanda dan Inggris di Asia Tenggara. Berangkat dari pemetaan itu, maka semua kebijakan colonial bisa diterapkan termasuk mereka yang berprofesi pedagang. Pemetaan negara colonial atas wilayah Asia Tenggara berimplikasi pada legalitas dengan menempatkan negara sebagai otoritas tunggal dalam menentukan kebijakan atas apa yang dilakukan warganya. Dalam konteks demikianlah lahir konsep illegal trader (pedagang illegal) bagi mereka yang tidak mau bekerjasama dengan Belanda dan para pelintas bantas yang tidak memiliki ijin resmi dari pemerintah colonial.
Selanjutnya, Eric Tagliacozzo dalam bukunya berjudul Secret Trades, Porous Borders, Smuggling and States along a Southeast Asia Frontier, 1865-1915  membahas periode akhir abad XIX dan awal abad XX yang oleh penulisnya menjadi periode penting dalam sejarah Kepulauan di Asia Tenggara. Dua kekuatan besar yang mengontrol Asia Tenggara adalah Inggris di Malaka, Borneo bagian utara, Sumatra dan Straits Settlements (Singapora dan Penang-malaysia di Selat Malaka), itu yang pertama. Kekuatan kedua adalah Belanda yang menguasai Jawa dalam waktu yang relative lama karena komoditi pangan dan perkebunan yang dihasilkan dan kemudian mengontrol perdagangan rempah-rempah di Kepulauan Maluku, Kalimantan Tenggara, Sulawesi, dan Kepualaun Sunda Kecil. Pada saat bersamaan kompetisi kedua kekuatan besar itu (Inggris dan Belanda) melahirkan kompetisi pada perebutan pengaruh di antara pada pedagang dan aliran komoditi perdagangan pun menentukan kemana komoditi itu dijual. Komunitas social atau para pedagang (illegal) itupun terpolarisasi dalam dua pihak itu dan pada perkembangan kemudian perebutan pengaruh keduanya tidak bisa dihindari.
            Pada bab-bab awal, Tagliacozzo menjelaskan secara rinci periode antara 1865 dan 1915 di Kepulauan Nusantara dengan menunjukan upaya untuk memetakan wilayah kekuasan Inggris dan Belanda. Dalam aktivitas itu, Eric menunjukan adanya kehadiran tentara kolonial Belanda dan pasukan laut menyebar di seluruh nusantara dengan bergerak menelusuri sungai, mengidentifikasi kerajaan-kerajaan “kecil” untuk tujuan pengawasan oleh pemerintahan Eropa. Dalam melakukan identifikasi itu, pemerintah colonial juga menyertakan pejabat, polisi, dan pembuat peta serta insinyur yang untuk membangun dermaga (pelabuhan), jalan, dan jaringan telegraf. Selain itu dibangun menara pengawas untuk menjaga pelintas batas (hlm. 83-84). Cara kerja kolonial seperti itu juga diikuti oleh pembukaan pertambangan dan perkebunan, khususnya di Kalimantan dan Sumatra (hlm. 123).

Arti Penting Pemetaan dan Kehadiran Negara Kolonial
dalam Perdagangan: Konteks Sulawesi 1865–1915

            Bagian ini dihadirkan untuk memberikan perspektif tentang sumbangan karya Eric Tagliacozzo dalam konteks Sulawesi pada umumnya dan Sulawesi Timur pada khususnya, terutama yang berkaitan dengan kontribusi buku ini dalam penelitian disertasi penulis. Oleh karena itu, sebelum sampai pada analisis terhadap kontribusi tulisan ini, terlebih dahulu saya hadirkan elemen-elemen yang terkait dan dapat ditemukan dalam perkembangan Asia Tenggara, Sulawesi pada umumnya, dan Sulawesi Timur pada khususnya.
            Elemen utama dari kajian itu adalah komunitas atau masyarakat sebagai pemain utama yang membentuk dan memainkan peranan penting dalam sejarah Asia Tenggara. Elemen ini berkaitan dengan masyarakat local dan pendatang yang berprofesi sebagai pedagang baik legal maupun illegal (rahasia). Sebagian lainnya, ada yang menjalankan aktivitas perompakan dengan tujuan politik dan lebih dominan ekonomi, yakni raiding, zeeroof, piracy, dan sebagianya.  Mereka harus berhadapan dengan kekuatan resmi pemerintah dengan penegakan hukum yang sesuai dan menguntungkan kolonil Belanda, termasuk Inggris karena kedua negara itu yang membuat batas-batas kekuasaannya atas sejumlah perbatasan negara-negara di Asia Tenggara (hlm. 107-181). Elemen selanjutnya adalah komoditi, karena dampak ikutan yang menyertai aktivitas ekonomi para saudagar dan para pelintas batas dari peta koloni Inggris dan Belanda. Dampak dari kontrol perbatasan dan para pedagang ini melahirkan kompetisi antara Inggris dengan Belanda serta terjadinya persaingan keduanya.
Rapuhnya  control terhadap perbatasan dan menjamurnya pedagang illegal (versi colonial) menjadi kosekuensi logis dari adanya perebutan dalam memenangkan ekonomi dan politik di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Dalam konteks itu pula, buku ini memberi gambaran terhadap apa yang terjadi di Sulawesi, yang juga melibatkan Sulawesi Timur dalam jaringan perdagangan dan komoditinya.
Sulawesi dikenal sebagai penghasil teripang, sirip ikan hiu, lola dan mutiara yang laku di pasar internasional hingga awal abad XX. Merujuk pada temuan McKnight bahwa kawasan ini adalah kawasan produsen hasil laut yang melimpah tetapi tidak untuk dikonsumsi oleh masyarakat local.[1] Realitas itu membawa pemahaman bahwa komoditi ini melibatkan para pedagang China dan Bajau. Komoditi ini dijual di Singapore dan pasti itu di bawah kontrol Inggris (hlm. 42).[2] Peran pedagang local yang di bawah control penguasa raja-raja local juga lebih mudah menjualnya kepada para pedagang China daripada kepada Belanda yang sejak awal menuntut monopoli. Kondisi itu, memaksa Belanda mengeluarkan kebijakan bahwa siapapun yang tidak menuruti kebijakan Belanda, maka dikelompokan sebagai Bajak Laut, oleh karena itu harus ditumpas.
            Komoditi agraris Sulawesi adalah beras di Sulawesi Selatan, perkebunan kelapa di Selayar, Bungku, Luwuk, Banggai, dan Buton serta kayu Jati di Muna (Raha) telah menempatkan kawasan ini terkoneksi dengan para pedagang Belanda melalui pedagang perantara yang berasal para pedagang China dan Arab. Komoditi ini menjadi incaran Inggris melalui para pedagang China dan Arab, termasuk juga komoditi budak. Perairan Sulawesi yang berbatasan dengan Kalimantan dan Laut Sulawesi yang berbatasan dengan kawasan laut Sulu Philipina mendekatkan kawasan ini ke pasar internasional. Keunggulan komparatif dengan sejumlah komoditi dagang itu, telah membuat kawasan Sulawesi, khususnya Sulawesi Timur menjadi arena perebutan ekonomi dan politik yang dimainkan oleh Belanda dan Inggris dengan keterlibatan otoritas local beberapa kerajaan di Sulawesi. Otoritas local telah menjadi salah satu penghalang bagi colonial Belanda dalam penegakan kekuasaan di Sulawesi. Terbukti, kawasan ini baru benar-benar dikuasai pada tahun 1906 dan Sulawesi timur baru mampu dipetakan pada tahun 1916.[3] Meskipun demikian, gangguan2 lokal masih terjadi di beberapa wilayah kerajaan seperti di Buton, Mori, dan Luwuk Banggai.
Dengan realitas seperti itu, maka bagi pemerintah colonial Belanda, ekspansi ekonomi dan politik yang ditegakan untuk mengatur wilayah itu (Sulawesi Timur) secara keseluruhan baru saja dimulai. Artinya batas-batas ekonomi dan politik baru saja dicanangkan sejalan dengan takluknya kerajaan local dan mendukung pengawasan colonial di daerah itu. Penegakan aturan pemerintah colonial Belanda di Sulawesi Timur tidak serta-merta menghilankan aktivitas perdagangan yang telah dilakukan oleh penduduk dan otoritas local mengalihkan kerjasamanya dengan pemerintahan colonial. Realitasnya lain menunjukan adanya pedagang gelap yang masih terjadi dalam penjualan komoditi kepada perusahaan Inggris yang ada di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah melalui para pelayar dan pedagang China (Tagliacozo, 170). Kondisi ini digunakan Belanda untuk mengeluarkan peraturan yang dinamakan dengan Exiting Legal Code yang dikenakan pada pedagang yang melakukan kontrak penjualan teripang. Dengan lahirnya aturan itu, maka control terhadap aktivitas pedagang di Sulawesi harus tunduk, meskipun diakui bahwa masih dijumpai para pedagang dengan dukungan otoritas local melakukan transaski dengan para pedagang China baik di Sulawesi Timur maupun di wilayah kekuasaan Inggris di Kalimantan Utara yang melibatkan Suku Bajau, para pedagang Makassar, dan paling mungkin Buton.

Penutup
          Kontribusi terbesar karya Eric Tagliacozzo adalah pada tema penelitian baru yang bagi sebagian besar peneliti (sejarawan) Asia Tenggara yang sulit menjangkaunya. Dunia illegal dan rahasia serta kaburnya batas-batas suatu wilayah/negara adalah hal yang sulit dijangkau dari sisi sumber sejarah. Akan tetapi, dengan kemampuan Eric dan dukungan sumber yang memadai, buku ini telah menjadi penelitian terbaik pada satu topic menarik tentang Sejarah Asia Tenggara yang melibatkan komunitas dan komoditi di pasar Internasional. Dasar kajiannya pun begitu kuat dengan memetakan bahwa periode 1865-1915 adalah sebuah era di mana batas-batas wilayah dan negara sudah demikian jelas dan dengan mudah dapat mengidentifikasi para pelanggar batas dan mengelompokan para pedagang ke dalam indicator legal atau illegal.
        Bagi Sulawesi pada umumnya dan Sulawesi Timur pada khususnya sebagaimana digambarkan Eric terkait dengan penegakan kekuasaan colonial Belanda di Indonesia yang dimulai pada akhir abad XIX sampai awal abad XX. Makin jelasnya batas otoritas colonial di Sulawesi umumnya, dan Sulawesi Timur pada khususnya telah mengakhiri penegakan kekuasaan di daerah itu. Akan tetapi dalam kepentingan lain, misanya ekonomi, Belanda baru saja memulainya dengan melakukan pemetaan kawasan ekonomi seperti perkebunan kelapa (kopra), hasil hutan (jati, rotan, dan dammar), dan hasil laut (mutiara dan teripang). Kebiasaan masyarakat local yang sudah terbentuk sebagai pelayar dan pedagang, khususnya Bugis-Makassar, Buton, dan Bajau tidak serta-merta berakhir melakukan transaksi dengan melanggar batas-batas yang digariskan colonial. Mereka mudah saja melakukan transaksi dengan para pedagang China di Laut Sulu, Laut Cina Selatan, dan Singapura. Transaksi ini didasari oleh kenyataan bahwa mereka lebih susah bertransaksi dengan Belanda daripada para pedagang China dan Inggris.
       Terlepas dari banyaknya keunggulan karya Eric tagliasozzo, buku ini sisi substansinya memiliki kelemahan karena tidak semua kawasan dan komunitas Asia Tenggara diuraikan seperti Kamboja, Vietnam, dan Burma. Selain itu, buku ini tidak utuh terutama halaman 1-15 dan adanya sejumlah gambar yang hilang. Oleh karena itu, buku baik ini harusnya menjadi perhatian para pemilik otoritas (pemerintah) dalam pengadaannya agar informasi dalam buku tidak dipahami secara parsial. Tentu dengan tujuan ikut mencerdaskan anak bangsa. Semoga bermanfaat untuk pembaca !


[1]C. C. Macknight, “The Nature of Early Maritime Trade: Some Points of Analogy from the Eastern Part of the Indonesian Archipelago”, dalam World Archaeology, Vol. 5, No. 2, Trade. (Oct., 1973), pp. 198-208. Lihat juga Sandra Boudler, “Hunters and traders in northern Australia” in  Kathleen D. Morrison dan Laura L. Junker (ed.), Forager-Traders in South and Southeast Asia, Long-Term Histories Cambridge, New York, Melbourne, Madrid, Cape Town, Singapore, São Paulo: Cambridge University Press, 2002), hlm. 167-184.
[2] Lihat juga Edward L. Poelinggomang, Makassar Abad XIX, Studi tentang Kebijakan Perdagangan Maritim, (Jakarta: Kompas Pustaka Gramedia, 2002), hlm. 4
[3]Lihat Staatsbalaad van Nederlandsch-Indië, tahun 1916 no. 27 tentang penetapan Oost Celebes sebagai Afdeeling.
*Review ini juga dibantu dari pengetahuan yang disumbang dari membaca Book Review yang terbit di berbagai Jurnal.

05 December 2014

Sistem Organisasi Perompakan di Kesultanan Zulu serta Peran Para Aktor

Review Artikel karya Jim Warren, "Who Were the Balangingi Samal? Slave Raiding and Ethnogenesis in Nineteenth-Century


dalam 
The Journal of Asian Studies, Vol. 37, No. 3, (May, 1978), pp. 477-490





A.  Pengantar
                Salah satu hal menarik perhatian dalam artikel Jim Warren adalah organisasi yang rapi dalam “masyarakat local” Balangingi Samal yang ada di kawasan laut Sulu. Profesi, para actor, dan ikatan social yang kuat di antara mereka dengan penguasanya (Kesultanan Zulu). Perubahan terjadi ketika kontak dengan masyarakat di luar mereka khususnya colonial yang memberi dampak pada pendapatan mereka dan makin intensifnya perdagangan yang melibatkan profesi mereka, berdagang budak (manusia).
                Jim Waren lebih lanjut membingkai tulisannya dalam perspektif “berfungsinya” elemen-elemen social dalam organisasi social yang dibangun dan diciptakan kerajaan menjalankan profesi sebagai pemburu manusia yang dijadikan budak. Pengaruh dari luar (colonial dan pedagang budak lainnya) ternyata tidak melemahkan, tetapi justru sebaliknya menguatkan posisi ekonomi kesultanan Zulu yang salah satunya dimainkan oleh kelompok social (masyarakat Balangingi Samal) sebagai pendukung serta para Taosug (kelompok social Dominan yang kini menjadi wilayah Philipina) yang berperan sebagai agen penjual budak dari hasil perburuan yang diorganisasi oleh penguasa Zulu. Ikatan antara Taosug dengan masyarakat local bergeser ketika colonial ikut menjadi bagian (sebagai salah satu agen) penjual budak (manusia). Pada titik ini, system social lebih cepat beradaptasi dibanding ikatan kerja (budaya) yang sudah terjalin lama dengan para taosug.      
                Cara kerja Jim Warren sebenarnya hampir sama dengan yang dilakukan oleh Lechman tentang Sistem Politik di Burma yang menguji berfungsinya elemen social yang saling membutuhkan dengan proses “mobilitas social” yang saling menguntungkan (mutualisme). Bedanya dengan Lechman adalah pada sisi sosial masyarakat yang diteliti, Warren masyarakat pantai di pesisir Sulu dan Lechman masyrakat Pedalaman Burma. Bagaimana Jim Warren memberikan kontribusi perspektif baru dalam memahami sejarah perompakan pada abad XIX di Sulu Zone?





 B. Kolonial dan Sistem Organisasi Perompakan 
  di Kesultanan Zulu serta Peran Para Aktor


Kategori bajak laut selalu membingungkan yang salah satunya disebabkan oleh identifikasi yang kurang teliti dari para peneliti dan banyaknya kelompok etnis yang menjadi bagian atau terlibat dalam aktivitas tersebut. Zeeroovers Sulu dan Illanun misalnya, seringkali salah diidentifikasi karena kekurang pahaman pada sisi etnolinguistik. Selain itu, peran masing-masing juga sering disalah pahami. Generalisasi terhadap profesi mereka menjadi sebagian penyebab kesalahan kategorisasi ini. Menurut  Warren, Balangingi Samal tidak sama dengan Illanun. Aktivitas mereka pada kegiatan perompakan juga berbeda. Balangingi Samal misalnya hanya melakukan perompakan manusia, meskipun manusia yang ditangkap adalah penduduk desa tetangganya.                 Berbeda dengan Illanun (Mindanao, Maranao) yang aktivitasnya ikut lebih dari sekedar merompak manusia.  Meskipin demikian kelompok yang berprofesi perompak ini hidup berdampingan yang dibingkai oleh ikatan ekologis sebagai pembentuk karakter mereka dan hubungannya dengan Kesultanan Zulu.
Selama abad ke-19, masyarakat Kesultanan Zulu terdiri dari tiga strata social, yakni bangsawan, orang-orang merdeka dan budak (a’ata). Dalam interaksi sosialnya, penguasa Zulu menunjuk seorang panglima sebagai wakil mereka yang sekaligus sebagai nakhoda ketika aktivitas perompakan manusia dilakukan secara berkempok. Komoditi yang juga dicari adalah teripang, kerang mutiara, dan garam sebagai salah satu upeti yang diberikan kepada kesultanan sebagai penopang ekonomi kesultanan selain hasil penjualan manusia (budak).  Selain itu, perompakan manusia juga diperuntukanbagi penyediaan tenaga kerja perompak yang khusus pada kapal-kapal yang mengankut mutiara, garam, dan teripang. Sampai dengan tahun   1848 popuasi penduduk kesultanan juga disumbang oleh hasil perompakan dan tercatat 10.000 dari 200 perahu perompak yang menjalankan misi ini. Tujuan utama mereka adalah mendapatkan kekayaan dari hasil penjualan budak.
Organisasi perompak juga sangat rapi dan melibatkan keluarga sultan. Beberapa juga ada yang sengaja direkrut kesultanan dan lainnya bahkan tidak mendapat ijin dari sultan Zulu. Sultan dan datu mengontrol perdangan dengn luar negeri dengan jaringan yang lebih luas. Tausog memiliki organasasi di bawah sultan dan datu.  Tausong berperan mengatur secara ketat aktivitas ekonomi dan penduduk. Komisi untuk para budak yang bekerja sebagai perompak dalam bentuk bahan logistic, senjata, dan beaya pelabuhan. Pendapatan sultan berasal dari hasil perdagangan (manusia), bea pelabuhan dan pasar, serta upeti. Para datu juga “dipaksa” untuk melakukan perdagangan agar tidak kehilangan control  atas pasokan dan distribusi senjata kepada para klien yang melakukan perompakan.
Pada paruh pertama abad ke-19 ada upaya keras dari sultan Zulu dan para pendukungnya untuk menjalankan control eksklusif terhadap perdagangan, namun mengalami kegagalan. Sultan telah kehilangan dukungan oleh penduduk yang berasal dari luar Samal.  Penduduk Samal telah mengalihkan dukungannya kepada para datu yang mengontrol perdagangan luar negeri (1810-1830). Datu Mulo dan perdana mentri  yang mengalami mobilitas social menjadi kaya dan mampu mengontrol ekonomi dan politik memiliki sejumlah harta seperti 25 meriam, dan 100 senapan, termasuk datu Sahal yang menjadi tokoh kuat dalam perdagangan luar negeri dan mengontrol ekspedisi perompak Balangingi. Kondisi itulah mobilitas berubah dari tangan sultan ke tangan para datu.

C. Komentar
Sebagai kata akhir, saya ingin mengatakan bahwa dinamika seperti inilah yang jarang dijumpai dalam historiografi. Kehadiram budak terampil sama sekali tidak dihadirkan dalam tulisan sejarawan Indonesia, apalagi system organisasi yang dibangun serta interelasi dengan struktur social di luar mereka, namun identifikasi Warren menemukannya sehingga sumbangan pada tulisan-tulisan sejarah menjadi kaya dan spefisifik terutama kaitannya dengan persentuhan masyarakat local dan global dengan media komoditi apapun yang memiliki nilai dan memberikan nilai lebih (surplus value) dalam bahasa kaum marxis. Perspektif hubungan fungsional antar elemen social di Kesultanan Zulu begitu dominan dengan “mengabaikan” system budaya yang sudah berakar lama. Jadi lagi tulisan ini membuktikan bahwa perubahan social lebih cepat dan dinamis direspon daripada perubahan budaya dalam konteks masyrakat Balangingi Samal ketika berinteraksi dengan elemen social politik di luar mereka.

Bacaan Pendukung.
Lapian, A.B. Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut, Sejarah Kawan Laut Sulawesi, Jakarta: Komunitas bamboo, 2011.

Berger, Peter L. Tafsir Sosial Atas Kenyataan, Jakarta: Lp3ES, 1990
Warren, J. “Who Were the Balangingi Samal? Slave Raiding and Ethnogenesis in Nineteenth-Century”, dalam The Journal of Asian Studies, Vol. 37, No. 3, (May, 1978), pp. 477-490.